Ketika berbicara tentang identitas suatu masyarakat, di Desa Wolowea memiliki satu identitas khas yang terus dipertahankan: jembatan adat bambu ( Padha Betho). Jembatan ini dirawat secara turun-temurun oleh berbagai suku yang tinggal di Wolowea. Ada empat ada jembatan adat bambu yang ada di wolowea. Ada jembatan bambu yang di namai padha pae, phada kolo-Egho, Padha Dokonuka, dan Padha Uzha. Jembatan-jembatan adat bambu diatas dikerjakan atau diperbaiki setiap tahunnya.
Padha Pae, misalnya, selalu diperbaiki setiap tahunnya menjelang panen hasil ladang dan pertanian dari anggota suku yang ada di Wolowea. Padha Pae dikerjakan oleh suku Ululabo dengan bantuan oleh suku-suku lain yang ada di wolowea. Jembatan ini menjadi jalur utama untuk membawa hasil pertanian ke kampung yang di sebut Nua dalam Bahasa Nage dan Keo. Perbaikan jembatan bambu adalah simbol kesiapan dan harapan: panen baik, perjalanan lancar.
Berbeda lagi dengan Padha Kolo-Egho yang di kerjakan oleh suku Tua dan Meli. Jembatan ini dibangun sebagai bentuk syukur atas hasil panen. Yang menarik, semua jembatan adat bambu di Wolowea mengarah ke satu titik suci di tengah kampung—Peo, tempat ritual adat yang disebut Zoka digelar untuk menghormati leluhur.
Sedangkan jembatan Padha Dokonuka, dibangun oleh suku Meli, adalah jembatan "pembersihan". Ia dimaknai sebagai jalan membuang hal-hal negatif sebelum masuk ke kampung. Setiap orang yang melewatinya diyakini harus meninggalkan beban buruk, agar harmoni kampung tetap terjaga.
Sementara itu, Padha Uza hanya dibangun dalam situasi tertentu—saat hujan tak kunjung datang. Jembatan ini dibuat sebagai bentuk doa kolektif, sebuah permohonan kepada alam agar hujan turun, dan ladang kembali hijau.
Empat jabatan adat bambu diatas adalah identitas suku-suku yang ada di wolowea-nagekeo di pulau flores. Masih dirawat sampai saat ini. Jembatan menjadi penghubung antar suku yang ada di kampung tersebut dan diyakini sebagai penghubung alam dengan manusia. Beberapa suku yang terlibat dalam perawatan dan pembangunan jembatan adat ini antara lain: suku Ulu Labo, Gaja, Pigajawa, Tua, Meli, Nakaoka, Analaga, Lunawaju, dan Wajuwawo. Setiap tahunnya, empat jembatan itu diperbaiki dengan diawali oleh upacara adat, sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan alam.
Sebenarnya, pembangunan jembatan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memiliki makna budaya yang mendalam. Jembatan ini adalah jalan yang dilalui oleh anggota suku menuju upacara syukuran akhir, yang disebut Zoka, di Kampung Wolowea.
Pembangunan jembatan adat bambu ini sepenuhnya berpegang pada prinsip gotong royong. Setiap anggota suku turut ambil bagian, baik dalam pengumpulan bahan, pengerjaan, maupun pelaksanaan upacara.
Bambu yang digunakan pun bukan bambu sembarangan. Di Wolowea, bambu tersebut disebut "Bheto Piye"—bambu yang dikeramatkan atau sudah diberi larangan untuk digunakan sembarangan. Bambu-bambu ini telah ada sejak dahulu dan ditanam khusus di sekitar area sekitar jembatan adat.
"Sejak zaman kami kecil, bambu-bambu itu sudah ada di sana. Tidak semua orang bisa mengambilnya, karena memang sudah dikhususkan untuk jembatan adat," ujar salah satu tokoh masyarakat Wolowea.
Pembuatan jembatan biasanya dilakukan pada bulan April hingga Juli setiap tahun, selalu disertai upacara adat dan makan bersama seluruh anggota suku, termasuk anak-anak suku. Momen ini menjadi saat yang sangat berharga untuk mempererat tali kekeluargaan dan menjaga hubungan antar generasi.
Ada yang khawatir bahwa bambu akan habis karena setiap tahun dipotong untuk membuat jembatan. Namun masyarakat Wolowea percaya bahwa itu tidak akan terjadi.
"Bambu tidak akan pernah habis, khususnya di Wolowea. Karena bambu-bambu itu ditanam dan dipelihara hanya untuk satu tujuan: membangun jembatan adat. Tidak digunakan untuk keperluan lain," ujar seorang sesepuh Desa Wolowea dengan yakin. Jembatan bambu di Wolowea bukan sekadar struktur fisik, melainkan simbol identitas, kekeluargaan, serta hubungan harmonis antara manusia, dan alam.
Kelompok Delima Wolowea sedang berfoto di
Kampus Bambu Turetogo-YBLL.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar