Kamis, 09 Oktober 2025

‎Jembatan Adat Bambu: Identitas dan Warisan Leluhur di Wolowea


Ketika berbicara tentang identitas suatu masyarakat, di  Desa Wolowea  memiliki satu identitas khas yang terus dipertahankan: jembatan adat bambu ( Padha Betho). Jembatan ini dirawat secara turun-temurun oleh berbagai suku yang tinggal di Wolowea.  Ada empat ada jembatan adat bambu yang ada di wolowea. Ada jembatan bambu yang di namai padha pae, phada kolo-Egho, Padha Dokonuka, dan Padha Uzha. Jembatan-jembatan adat bambu diatas dikerjakan atau diperbaiki setiap tahunnya.

‎Padha Pae, misalnya, selalu diperbaiki  setiap tahunnya menjelang panen hasil ladang dan pertanian dari anggota suku yang ada di Wolowea. Padha Pae dikerjakan oleh suku Ululabo dengan bantuan oleh suku-suku lain yang ada di wolowea. Jembatan ini menjadi jalur utama untuk membawa hasil pertanian ke kampung yang di sebut Nua dalam Bahasa Nage dan Keo. Perbaikan jembatan bambu adalah simbol kesiapan dan harapan: panen baik, perjalanan lancar.

‎Berbeda lagi dengan Padha Kolo-Egho yang di kerjakan oleh suku Tua dan Meli. Jembatan ini dibangun sebagai bentuk syukur atas hasil panen. Yang menarik, semua jembatan adat bambu di Wolowea mengarah ke satu titik suci di tengah kampung—Peo, tempat ritual adat  yang disebut Zoka digelar untuk menghormati  leluhur. 

‎Sedangkan jembatan Padha Dokonuka, dibangun oleh suku Meli, adalah jembatan "pembersihan". Ia dimaknai sebagai jalan membuang hal-hal negatif sebelum masuk ke kampung. Setiap orang yang melewatinya diyakini harus meninggalkan beban buruk, agar harmoni kampung tetap terjaga.

‎Sementara itu, Padha Uza hanya dibangun dalam situasi tertentu—saat hujan tak kunjung datang. Jembatan ini dibuat sebagai bentuk doa kolektif, sebuah permohonan kepada alam agar hujan turun, dan ladang kembali hijau.

‎Empat jabatan adat bambu diatas adalah identitas suku-suku yang ada di wolowea-nagekeo di pulau flores. Masih dirawat sampai saat ini. Jembatan menjadi penghubung antar suku yang ada di kampung tersebut dan diyakini sebagai penghubung  alam dengan manusia. Beberapa suku yang terlibat dalam perawatan dan pembangunan jembatan adat ini antara lain: suku Ulu Labo, Gaja, Pigajawa, Tua, Meli, Nakaoka, Analaga, Lunawaju, dan Wajuwawo. Setiap tahunnya, empat jembatan itu diperbaiki dengan diawali oleh upacara adat, sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dan alam.

‎Sebenarnya, pembangunan jembatan ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga memiliki makna budaya yang mendalam. Jembatan ini adalah jalan yang dilalui oleh anggota suku menuju upacara syukuran akhir, yang disebut Zoka, di Kampung Wolowea.

‎Pembangunan jembatan adat bambu ini sepenuhnya berpegang pada prinsip gotong royong. Setiap anggota suku turut ambil bagian, baik dalam pengumpulan bahan, pengerjaan, maupun pelaksanaan upacara.

Bambu yang digunakan pun bukan bambu sembarangan. Di Wolowea, bambu tersebut disebut "Bheto Piye"—bambu yang dikeramatkan atau sudah diberi larangan untuk digunakan sembarangan. Bambu-bambu ini telah ada sejak dahulu dan ditanam khusus di sekitar area sekitar jembatan adat.

"Sejak zaman kami kecil, bambu-bambu itu sudah ada di sana. Tidak semua orang bisa mengambilnya, karena memang sudah dikhususkan untuk jembatan adat," ujar salah satu tokoh masyarakat Wolowea.

Pembuatan jembatan biasanya dilakukan pada bulan April hingga Juli setiap tahun, selalu disertai upacara adat dan makan bersama seluruh anggota suku, termasuk anak-anak suku. Momen ini menjadi saat yang sangat berharga untuk mempererat tali kekeluargaan dan menjaga hubungan antar generasi.

Ada yang khawatir bahwa bambu akan habis karena setiap tahun dipotong untuk membuat jembatan. Namun masyarakat Wolowea percaya bahwa itu tidak akan terjadi.

Kelompok Perempuan Wolowea
 Kelompok Delima Wolowea sedang berfoto di
Kampus Bambu Turetogo-YBLL. 

"Bambu tidak akan pernah habis, khususnya di Wolowea. Karena bambu-bambu itu ditanam dan dipelihara hanya untuk satu tujuan: membangun jembatan adat. Tidak digunakan untuk keperluan lain," ujar seorang sesepuh Desa Wolowea dengan yakin. Jembatan bambu di Wolowea bukan sekadar struktur fisik, melainkan simbol identitas, kekeluargaan, serta hubungan harmonis antara manusia, dan alam.


Minggu, 05 Oktober 2025

Nilai Budaya dalam Menjaga Ekosistem lingkungan

Larangan-larangan seperti, "Ei, kamu jangan pergi ke tempat itu. Itu sakral, keramat," atau "Jangan mengambil ini atau itu," sering kali terdengar di berbagai komunitas adat. Kalimat-kalimat ini bukan sekadar mitos atau kepercayaan kuno, tetapi memiliki makna yang lebih dalam, yaitu menjaga keberlanjutan dan keseimbangan lingkungan. Prinsip keadilan antargenerasi telah lama diterapkan dalam kehidupan masyarakat adat, menunjukkan bahwa keberlanjutan bukanlah konsep baru bagi mereka. Nilai ini telah tumbuh dan hidup di tengah masyarakat.

Di Wolowea, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, masih terdapat tradisi menjaga hutan bambu di sekitar jembatan adat yang terbuat dari bambu. Hingga kini, larangan mengambil bambu dari wilayah ini masih dihormati. Betho Pie (bambu yang dilarang) hanya digunakan untuk kepentingan pembuatan jembatan adat bambu yang dikerjakan setiap tahun dalam komunitas adat Wolowea. Betho Pie ditanam oleh leluhur, dirawat, dan digunakan hanya untuk pembuatan Phada Bheto (jembatan adat bambu).

Suku Wolowea terletak di Kecamatan Boawae, Kabupaten Nagekeo, Pulau Flores, NTT. Dari Kota Kupang, ibu kota Provinsi NTT, perjalanan ke Wolowea dapat ditempuh dengan pesawat menuju Bandara di Kabupaten Ende, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Kabupaten Nagekeo.

Jembatan adat bambu yang dibangun setiap tahun ini dinamai Kolo Ego, yang membentang sepanjang kurang lebih 30 meter di atas Kali Loco Labo, menghubungkan kampung-kampung di Wolowea. Pembangunan jembatan ini atas gotong royong dan  kerja sama antarsuku di Wolowea. Pembangunan jembatan ini juga mempunyai tujuan sebagai tempat yang akan di lalui anggota suka menuju menuju syukuran akhir yang sebut Zoka di Kampung Wolowea. Menurut warga setempat, 
pembangunan jembatan adat bambu berpegang pada prinsip gotong royong. Hal Ini menunjukkan bahwa nilai keberlanjutan telah menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat, bukan sekadar konsep baru yang diperkenalkan oleh modernisasi.

Pengalaman dari Suku Wolowea memberikan pelajaran bahwa budaya dan lingkungan dapat saling menguntungkan. Bambu ditanam untuk memenuhi kebutuhan budaya Suku Wolowea, sementara di sisi lain, bambu juga memberikan manfaat ekologis. Bambu dapat menyerap karbon di udara, menyimpan air, serta mencegah longsor.                                                          

Menurut Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM)  penelitian menunjukkan bahwa bambu memiliki daya serap karbon yang tinggi, berkisar antara 16 -128 ton karbon per hektar. Jika dikelola dengan baik, bambu dapat membantu mengurangi emisi karbon hingga 35%.

Namun, dalam konteks zaman sekarang, nilai kebudayaan dan larangan tradisional kadang kala  dianggap sebagai sesuatu yang kuno dan tidak relevan. Kemajuan zaman membawa tantangan tersendiri, di mana nilai-nilai  lokalitas  sering diabaikan, padahal memiliki manfaat besar bagi lingkungan dan keberlanjutan. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran kritis untuk mempertahankan nilai-nilai yang telah lama menjaga keseimbangan ekosistem.

Dalam konteks pemerintahan, konsep keberlanjutan juga menjadi perhatian utama, sebagaimana tercermin dalam Sustainable Development Goals (SDGs). Pemerintah berupaya memastikan bahwa pembangunan yang direncanakan harus memperhatikan keberlanjutan agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Hal ini sejalan dengan praktik konservasi lingkungan yang telah lama diterapkan dalam komunitas adat.

Selain peran pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) juga memiliki kontribusi penting dalam mengorganisir masyarakat agar terus berpikir kritis. Seperti yang dikemukakan oleh John Tan dan Roem dalam bukunya Mengorganisir Rakyat: Refleksi Pengalaman Pengorganisasian Rakyat di Asia Tenggara, pengorganisasian masyarakat melibatkan beberapa tahapan, yaitu memulai pendekatan, memfasilitasi proses, merancang strategi, mengerahkan tindakan, menata organisasi, dan membangun sistem pendukung. LSM berperan dalam mendukung masyarakat agar terus berkembang dalam proses yang berkelanjutan.

Dalam konteks pelestarian lingkungan dan nilai budaya, pengorganisasian semacam ini sangat diperlukan. LSM dapat berperan dalam mendokumentasikan serta mengarsipkan pengetahuan lokal yang mengandung nilai keberlanjutan, sekaligus menghidupkan kembali praktik-praktik yang mulai pudar. Dengan melakukan pendampingan terhadap komunitas adat, membangun sistem pendukung, serta mendorong tindakan kolektif, diharapkan kesadaran kritis masyarakat dalam menjaga nilai-nilai keberlanjutan dapat terus tumbuh dan berkembang.

Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana memastikan nilai-nilai keberlanjutan dalam komunitas adat tetap hidup dan dapat terus diwariskan. Diperlukan upaya kolaboratif antara masyarakat adat, pemerintah, dan pihak terkait lainnya agar tradisi yang mengandung nilai-nilai keberlanjutan tetap berkontribusi dalam menjaga lingkungan dan keseimbangan ekosistem di masa depan. 



Minggu, 11 Februari 2024

"Perjalanan Pandu Bambu Nagekeo"


Perkenalkan saya; Juruslan Dj. R. Ndima. Saya fasilitator Yayasan bambu lingkungan Lestari di Kabupaten Nagekeo. Pada bulan April tahun Dua Ribu Dua Puluh Satu  saya pertama menginjakan kaki di pulau ini, pulau flores.  Saya belum pernah sebelumnya. perjalanan dari sumba timur melalui  bandara Waingapu Umbu Mehang Kunda, lalu transit di Kupang dan sampai  di  Soa-Bajawa. Waktu kedatangan di jemput oleh mobil kantor yang di kendarai oleh "Om Dowar".   Perjalanan dari bandara menuju Mataloko tempat kami melaksanakan Trainer Of Training ( TOT).  perjalanan disambut oleh rimbunnya daun bambu. drama dari waingapu--Kupang-- sampai Soa banyak sekali. belum dapat Ijin dari pacar untuk pergi ke Flores,  keliru dengan foto profil WhatsApp dari  Kakak  Septiani S.Maro. sudah jelas kalau dari nama itu pasti perempuan. tapi, saya panggil "Om" ketika balas pesan WhatsApp. 

akhirnya tiba di Gerbang Mataloko dan turun dari sambil berkenalan dengan beberapa teman-teman. tiba-tiba ada suara dari samping yang keluar dari kamar. "kamu. ruslan ya?''  sambil salaman. " Iya saya ruslan Ibu". ucap saya. "saya Ibu Wiwin". ucapnya sambil mempersilahkan untuk minum dulu dan istrahat. 

Ibu Wiwin  yang  wawancara saya melalui  telepon Seluler beberapa minggu sebelum keberangkatan dari Waingpau Sumba Timur. Belio yang memberikan saya kepercayaan untuk bisa sampai ada di Yayasan Bambu Lingkunga Lestari. akhirnya berkenal dengan semua staf bambu lestari yang ada di Flores. kembali Om Dowar orang pertama yang saya beranikan diri untuk tanya tentang bambu dan informasi mengenai Ngada. belio sangat ramah. Malam tiba Om alfred, Om Sefrin  datang membawakan "moke putih". 

MAMA LINDA PELOPOR MAMA BAMBU

5 mei 2021 adalah hari pertama saya bertemu dengan Mama “Maria Ermelinda Tai”. setalah saya melapor diri di kantor kelurahan Wolopogo. Mama Linda merupakan orang pertama yang saya kenal di kelompok Ngusa Mula Kelurahan wolopogo kebetulan Mama Linda adalah ketua kelompok. Pertemuan saya dengan mama linda untuk menjelaskan program pengembangan bambu dan pemberdayaan Perempuan. Mama linda sangat menerima baik program ini bersama anggotanya “kami terima program ini, dan dulu juga kami sudah pernah melakukan pembibitan kayu jati” sambungnya. Pertemuan itu merupakan langkah awal saya untuk mengenal semua mama mama dalam kelompok Ngusa Mula.

10 mey 2021 saya  melakukan sosialisasi di kantor kelurahan wolopogo di hadiri oleh semua anggota kelompok,  RT dan suami dari ibu anggota kelompok. pertemuan saya memperkenalkan diri  sebagai fasilitator desa bambu dari Yayasan bambu Lestari yang bekerja sama dengan DPMD Prov NTT untuk program pengembangan desa Wanatani bambu di kabupaten Nagekeo. Pertemuan itu berjalan dengan baik dan diterima oleh semua ibu ibu anggota kelompok Mgusa Mula.

Setelah di tanggal 10 mey 2021 itu saya sudah aktif untuk berkunjung di kelompok Ngusa Mula  dan rumah setiap rumah ibu anggota kelompok. kunjungan saya sebagai fasilitator untuk belajar bersama tentang pembibitan bambu dalam skala rumah tangga. Biasanya melihat bibit cabang yang sudah ditanam dalam polybag, dan cara pemilihan bibit yang baik dan benar. “Pak Rus, saya sudah koker bambu bheto (bambu petung)”. biasa kalimat pertama yang diucapkan mama linda ketika saya kunjung kerumah, siapa yang cari bibit mama?? Lanjut saya. "Ini Om Gusti yang cari, pas lagi pergi pindah sapi dikebun jadi dia ambil bibit pak Rus". ucap mama linda.

Om Gusti Mese merupakan nama lengkap suami dari mama linda sebagai ketua kelmpok Ngusa Mula, om Gusti merupakan Bapak pelopor yang selalu mendorong ibu ibu anggota kelompok untuk mencari bibit dan selalu memberi semangat buat ibu kelompok.

Suatu hari saya kunjung lapangan Om Gusti lagi baru dari jual ayam pedaging  dengan motor dan selalu membawa bibit bambu pas pulang rumah. kalimat yang selalu dia katakan ketika saya berkunjung “ to’o air”, semacam permintaan kepada mama linda untuk buatkan kopi. "Pak Ruslan, ini bambu bheto lama baru tunas", sambungnya. "Ya. benar Om Gusti, kalau untuk bambu petung memang memerlukan waktu dua minggu untuk tunas tapi sangat tergantung pada kondisi lingkungannya apa panas atau sejuk Om". Ucap saya.

Pertemuan demi pertemuan di kelompok Om Gusti selalu hadir, jika tidak keluar pergi kebun dan keliling menjual ayam. Pada tangal 26 september 2021 pas sore hari saya baru masuk kamar kos. tiba-tiba HP saya bunyi nada dering telpon. “Pak Ruslan, Om Gusti menghilang dari rumah sejak sejak kemarin pagi” sudah dari tadi pagi sampai malam ini belum pulang.  mama linda menangis terus,” ucap mama Ludgardis  yang juga wakil ketua kelompok. "Om Gusti kemana Mama Lud??". tanya saya. “ katanya mau pi ( pergi)  berburu Pak rus”.telepon langsung mati.

27 Sepetember 2021 ada kabar kalau Om Gusti sudah meninggal, jasadnya di temukan di desa Raja Kecamatan Boawae--Nagekeo.  Akibatnya meninggalnya tidak yang tau pasti, kenapa bisa terjadi, dari pemeriksaan medis tidak ada indikasi kekerasaan. Keluargapun menerima dengan baik  jasad Om Gusti dan dilakukan penguburan.

Mama linda pastinya bersedih atas kepergian sang suami, yang komitmen awalnya 8.000 bibit bambu untuk ditanam akhirnya mama linda tidak melanjutkan, mama linda yang membibitkan sejumlah 2.000 bibit bambu dalam polybag dan semua sudah berdaun subur dan segar segar.

( bibit bambu yang dihasilkan oleh mama linda)

Mama, nanti uang bambu mau beli untuk apa mama linda”,? tanya saya. “Pak Rus e, anak di kupang sudah telpon kemarin untuk bayar regis nanti di semester 6, belum lagi Ros yang masih SMA”. jadi uang bambu dari dua ribu itu untuk bayar regis ko Mama? Iya, betul Pak Rus..

Kini Mama Linda bangkit dari kesedihan atas kepergian suaminya Om Gusti. Mama Linda kembali memimpin kelompok Ngusa Mula. Mereka aktif dalam setiap tahap sekolah lapang bambu yang di gagas oleh Yayasan Bambu Lingkungan Lestari. Mama linda kembali menampilkan senyum seorang ibu yang sangat baik hatinya. Suatu ketika Presiden Joko Widodo berkunjung ke Kampus Bambu Turetogo Mama linda dan bertemu dengan Pak Presiden. Semangat mama Linda. Perjuangan untuk dapur dan lingkungan masih Panjang. 

Terima kasih atas dedikasinya selama ini Om Gusti, kami akan lanjutkan semangatmu untuk lingkungan lestari dan ekonomi keluarga sejahtera.

MAMA RAIMUNDA PELOPOR WARISAN LELUHUR

Kelompok Delima, Desa Wolowea Kecamatan Boawae Kabupaten Nagekeo, suatu daerah yang masih sangat kental dengan  budaya bambunya. Sebelum menuju ke kampung kamu harus menyucikan diri jalan harus melalui jembatan bambu. jembatan bambu sebagai jalan penyucian diri sebelum menuju kampung.

Cerita ini  dianyam oleh mama Raimunda Mogi, Bendahara kelompok Delima. Mama Munda selalu menjadi actor penting dalam mengorganisir 24 orang anggota kelmpok Delima. Mama Munda berkomitmen untuk membuat 8.000 bibit bambu pada tahun 2021 dan menghasilkan uang tunai sekitar 20.000,000,00. Selain membuat bibit bambu mama Munda juga punya kemampuan menganyam. Jenis anyaman mama Munda yaitu; bere, tikar dan lain-lain.

“ anyaman ini sudah dari sejak dahulu kala, sudah turun temurun dan digunakan untuk adat, terus digunakan untuk rumah tangga. Ada berbagai macam anyaman Kalau di Nagekeo ada bere, ada bola oka’.

“Tahun 2021 kami  di dampingi oleh Yayasan bambu untuk membuat bibit bambu. sedangkan di tahun 2022 kami  mama bamboo dilatih untuk anyam menggunakan bambu. agak susah, dan tidak terbiasa menggunakan bambu. dulu kan menggunakan daun pandang. Jadi, sekarang ternyata bambu ini bisa menjadi bahan anyaman juga begitu. Iya juga, karena bambu banyak sekali di sekitar kami”.

Polybag serat alam yang kami buat digunakan untuk tanam sayur dan dijual, jual itu harga 10 ribu perbuah. Masih sedikit yang mau beli juga. Harapan kedepan masih banyak yang mau beli dan mau pakai polybag serat bambu ini begitu. Raimunda Mogi ( pegiat Bambu, dan mama  bambu Delima Desa Wolowea Nagekeo ).

KABAR BAIK DARI KEBUN

 Kabar baik dari kebun kepompong tidak terlepas dari kendali mama Linda sebagai ketua kelompok Ngusa Mula, Kebun ini Kelola oleh mama bambu yang di desain demostrasi plot kebun kepompong bambu  agroforestry. Karena agroforestry, maka harus beragam aneka tanaman, aada tanaman kehutanan, perkebunan, pertanian dan perikanan.

Waktunya panen sayur mayur yang ditanam oleh mama bambu Ngusa Mula Wolopogo sekitar bulan Oktober 2022 yang lalu. Sayuran ini disandingkan dengan bambu di Kebun Kepompong. Eh, kebun kepompong itu adalah lahan yang di kelola dengan baik terutama dari segi pengairan dengan tujuan untuk pembesaran rimpang bambu yang rentan waktunya kurang lebih 1-3 tahun.

                                               ( Mama bambu sedang panen sayur dilahan kepompong)

Kembali kesayuran, mama bambu telah panen apa yang mereka tanam. Hasil panen ini akan dibagi kepada mama bamboo yang lain, belum seberapa banyak sih, tapi yang penting ada hasilnya.  Ide menanam sayur mayur adalah dari mama bambu sendiri, mulai dari bulan September yang lalu. Mereka bersepakat bahwa sambil merawat bambu mereka bisa menanam sayur mayur yang bisa di panen dalam jangka waktu 1-2 bulan. Ini sudah panen yang kedua kalinya, panen pertama disajikan ketika kami kegiatan pelatihan pembuatan serat alam beberapa hari yang lalu. Apa yang saya belajar dari hal ini, sederhana saja kerjakan apa yang telah disepekati. Ya, benar. Saya melihat ini adalah pembelajaran, mama mama telah mengerjakan apa yang mereka telah sepakati beberapa bulan yang lalu dan telah menghasilkan.

Ini juga pembelajaran buat kami, bahwa bamboo tidak bisa sendiri, dia membutuhkan sahabat. artinya apa, bambu dalam umur tertentu bisa bersahabat dengan tanaman tertentu. Jika di sudah besar maka dia bisa bersahabat tanaman besar lainnya.



 Juruslan Dj. R.Ndima

Pandu Bambu Nagekeo