Perkenalkan saya; Juruslan Dj. R. Ndima. Saya fasilitator Yayasan bambu lingkungan Lestari di Kabupaten Nagekeo. Pada bulan April tahun Dua Ribu Dua Puluh Satu saya pertama menginjakan kaki di pulau ini, pulau flores. Saya belum pernah sebelumnya. perjalanan dari sumba timur melalui bandara Waingapu Umbu Mehang Kunda, lalu transit di Kupang dan sampai di Soa-Bajawa. Waktu kedatangan di jemput oleh mobil kantor yang di kendarai oleh "Om Dowar". Perjalanan dari bandara menuju Mataloko tempat kami melaksanakan Trainer Of Training ( TOT). perjalanan disambut oleh rimbunnya daun bambu. drama dari waingapu--Kupang-- sampai Soa banyak sekali. belum dapat Ijin dari pacar untuk pergi ke Flores, keliru dengan foto profil WhatsApp dari Kakak Septiani S.Maro. sudah jelas kalau dari nama itu pasti perempuan. tapi, saya panggil "Om" ketika balas pesan WhatsApp.
akhirnya tiba di Gerbang Mataloko dan turun dari sambil berkenalan dengan beberapa teman-teman. tiba-tiba ada suara dari samping yang keluar dari kamar. "kamu. ruslan ya?'' sambil salaman. " Iya saya ruslan Ibu". ucap saya. "saya Ibu Wiwin". ucapnya sambil mempersilahkan untuk minum dulu dan istrahat.
Ibu Wiwin yang wawancara saya melalui telepon Seluler beberapa minggu sebelum keberangkatan dari Waingpau Sumba Timur. Belio yang memberikan saya kepercayaan untuk bisa sampai ada di Yayasan Bambu Lingkunga Lestari. akhirnya berkenal dengan semua staf bambu lestari yang ada di Flores. kembali Om Dowar orang pertama yang saya beranikan diri untuk tanya tentang bambu dan informasi mengenai Ngada. belio sangat ramah. Malam tiba Om alfred, Om Sefrin datang membawakan "moke putih".
MAMA
LINDA PELOPOR MAMA BAMBU
10 mey 2021 saya melakukan sosialisasi di kantor kelurahan
wolopogo di hadiri oleh semua anggota kelompok,
RT dan suami dari ibu anggota kelompok. pertemuan saya memperkenalkan
diri sebagai fasilitator desa bambu dari
Yayasan bambu Lestari yang bekerja sama dengan DPMD Prov NTT untuk program
pengembangan desa Wanatani bambu di kabupaten Nagekeo. Pertemuan itu berjalan
dengan baik dan diterima oleh semua ibu ibu anggota kelompok Mgusa Mula.
Setelah di tanggal 10 mey
2021 itu saya sudah aktif untuk berkunjung di kelompok Ngusa Mula dan rumah setiap rumah ibu anggota kelompok.
kunjungan saya sebagai fasilitator untuk belajar bersama tentang pembibitan
bambu dalam skala rumah tangga. Biasanya melihat bibit cabang yang sudah
ditanam dalam polybag, dan cara pemilihan bibit yang baik dan benar. “Pak Rus,
saya sudah koker bambu bheto (bambu petung)”. biasa kalimat pertama yang
diucapkan mama linda ketika saya kunjung kerumah, siapa yang cari bibit mama??
Lanjut saya. "Ini Om Gusti yang cari, pas lagi pergi pindah sapi dikebun jadi
dia ambil bibit pak Rus". ucap mama linda.
Om Gusti Mese merupakan
nama lengkap suami dari mama linda sebagai ketua kelmpok Ngusa Mula, om Gusti
merupakan Bapak pelopor yang selalu mendorong ibu ibu anggota kelompok untuk
mencari bibit dan selalu memberi semangat buat ibu kelompok.
Suatu hari saya kunjung
lapangan Om Gusti lagi baru dari jual ayam pedaging dengan motor dan selalu membawa bibit bambu
pas pulang rumah. kalimat yang selalu dia katakan ketika saya berkunjung “ to’o
air”, semacam permintaan kepada mama linda untuk buatkan kopi. "Pak Ruslan, ini
bambu bheto lama baru tunas", sambungnya. "Ya. benar Om Gusti, kalau untuk bambu
petung memang memerlukan waktu dua minggu untuk tunas tapi sangat tergantung
pada kondisi lingkungannya apa panas atau sejuk Om". Ucap saya.
27 Sepetember 2021 ada
kabar kalau Om Gusti sudah meninggal, jasadnya di temukan di desa Raja
Kecamatan Boawae--Nagekeo. Akibatnya meninggalnya tidak yang tau pasti, kenapa bisa
terjadi, dari pemeriksaan medis tidak ada indikasi
kekerasaan. Keluargapun menerima dengan baik jasad Om Gusti dan dilakukan penguburan.
Mama linda pastinya
bersedih atas kepergian sang suami, yang komitmen awalnya 8.000 bibit bambu
untuk ditanam akhirnya mama linda tidak melanjutkan, mama linda yang
membibitkan sejumlah 2.000 bibit bambu dalam polybag dan semua sudah berdaun
subur dan segar segar.
“Mama, nanti uang
bambu mau beli untuk apa mama linda”,? tanya saya. “Pak Rus e, anak di kupang
sudah telpon kemarin untuk bayar regis nanti di semester 6, belum lagi Ros yang
masih SMA”. jadi uang bambu dari dua ribu itu untuk bayar regis ko Mama? Iya, betul
Pak Rus..
Kini Mama Linda bangkit dari kesedihan atas kepergian suaminya Om Gusti. Mama Linda kembali memimpin kelompok Ngusa Mula. Mereka aktif dalam setiap tahap sekolah lapang bambu yang di gagas oleh Yayasan Bambu Lingkungan Lestari. Mama linda kembali menampilkan senyum seorang ibu yang sangat baik hatinya. Suatu ketika Presiden Joko Widodo berkunjung ke Kampus Bambu Turetogo Mama linda dan bertemu dengan Pak Presiden. Semangat mama Linda. Perjuangan untuk dapur dan lingkungan masih Panjang.
Terima kasih atas dedikasinya selama ini Om Gusti, kami akan lanjutkan semangatmu untuk lingkungan lestari dan ekonomi keluarga sejahtera.
MAMA
RAIMUNDA PELOPOR WARISAN LELUHUR
Kelompok
Delima, Desa Wolowea Kecamatan Boawae Kabupaten Nagekeo, suatu daerah yang
masih sangat kental dengan budaya
bambunya. Sebelum menuju ke kampung kamu harus menyucikan diri jalan harus
melalui jembatan bambu. jembatan bambu sebagai jalan penyucian diri sebelum
menuju kampung.
Cerita
ini dianyam oleh mama Raimunda Mogi,
Bendahara kelompok Delima. Mama Munda selalu menjadi actor penting dalam
mengorganisir 24 orang anggota kelmpok Delima. Mama Munda berkomitmen untuk
membuat 8.000 bibit bambu pada tahun 2021 dan menghasilkan uang tunai sekitar
20.000,000,00. Selain membuat bibit bambu mama Munda juga punya kemampuan
menganyam. Jenis anyaman mama Munda yaitu; bere, tikar dan lain-lain.
“Tahun
2021 kami di dampingi oleh Yayasan bambu
untuk membuat bibit bambu. sedangkan di tahun 2022 kami mama bamboo dilatih untuk anyam menggunakan
bambu. agak susah, dan tidak terbiasa menggunakan bambu. dulu kan menggunakan
daun pandang. Jadi, sekarang ternyata bambu ini bisa menjadi bahan anyaman juga
begitu. Iya juga, karena bambu banyak sekali di sekitar kami”.
Polybag serat alam yang kami buat digunakan untuk tanam sayur dan dijual, jual itu harga 10 ribu perbuah. Masih sedikit yang mau beli juga. Harapan kedepan masih banyak yang mau beli dan mau pakai polybag serat bambu ini begitu. Raimunda Mogi ( pegiat Bambu, dan mama bambu Delima Desa Wolowea Nagekeo ).
KABAR
BAIK DARI KEBUN
Waktunya panen sayur mayur yang ditanam oleh mama bambu Ngusa Mula Wolopogo sekitar bulan Oktober 2022 yang lalu. Sayuran ini disandingkan dengan bambu di Kebun Kepompong. Eh, kebun kepompong itu adalah lahan yang di kelola dengan baik terutama dari segi pengairan dengan tujuan untuk pembesaran rimpang bambu yang rentan waktunya kurang lebih 1-3 tahun.
( Mama bambu sedang panen sayur dilahan kepompong)Kembali
kesayuran, mama bambu telah panen apa yang mereka tanam. Hasil panen ini akan
dibagi kepada mama bamboo yang lain, belum seberapa banyak sih, tapi yang
penting ada hasilnya. Ide menanam sayur
mayur adalah dari mama bambu sendiri, mulai dari bulan September yang lalu.
Mereka bersepakat bahwa sambil merawat bambu mereka bisa menanam sayur mayur
yang bisa di panen dalam jangka waktu 1-2 bulan. Ini sudah panen yang kedua
kalinya, panen pertama disajikan ketika kami kegiatan pelatihan pembuatan serat
alam beberapa hari yang lalu. Apa yang saya belajar dari hal ini, sederhana
saja kerjakan apa yang telah disepekati. Ya, benar. Saya melihat ini adalah
pembelajaran, mama mama telah mengerjakan apa yang mereka telah sepakati
beberapa bulan yang lalu dan telah menghasilkan.
Ini juga pembelajaran
buat kami, bahwa bamboo tidak bisa sendiri, dia membutuhkan sahabat. artinya
apa, bambu dalam umur tertentu bisa bersahabat dengan tanaman tertentu. Jika di
sudah besar maka dia bisa bersahabat tanaman besar lainnya.

.jpeg)